Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BELA ULAMA, Komnas HAM SKAK-MAT Gubernur Kalbar Cornelis yang Radikal dan Anti Kebhinekaan

Pidato provokasi gubernur kalimantan barat cornelis yang melarang imam besar front pembela islam (fpi) dan juga sekjen mui ust. tengku zulkarnain menginjakkan kaki di kalimantan barat sudah tersebar luas di bermacam jejaring media sosial.

oleh komisioner komnas ham maneger nasution, aksi tersebut dinilai bagaikan aksi melanggar hak asasi manusia (ham).

“sebagai pejabat publik, dia kandas mengerti tentang perihal amat elementer dari perspektif ham. merupakan hak konstitusional tiap masyarakat negeri buat berangkat dan juga tinggal di segala teritori nkri. dan juga, merupakan kewajiban konstitusional negeri, spesialnya pemerintah (bagaikan gubernur, cornelis merupakan perwakilan pemerintah pusat di wilayah, red) buat menegakkan dan juga penuhi hak - hak konstitusional masyarakat negeri, ” jelas maneger, kamis 25 mei
2017.

baginya, cornelis sepatutnya lekas memohon maaf kepada publik. lantaran telah melukai hati umat islam dengan kalimat provokatif yang dilontarkannya dikala berposisi di kabupaten landak sebagian waktu yang kemudian itu.

“ia sejatinya secara ksatria memohon maaf kepada warga kalimantan barat yang sudah tercederai, paling utama umat islam, ” tegasnya.

komnas ham seorang diri mengimbau kepada warga buat tidak terprovokasi, tetapi silih memuliakan satu sama lain.

“sekira terdapat perkara, kedepankan diskusi dan juga musyawarah, ” tandasnya.

seseorang masyarakat pontianak generasi tionghoa yang saat ini tinggal di jakarta, yen nie (41 th) mengatakan kekecewaannya pada perilaku gubernur kalimantan barat sekalian mengapresiasi langkah komnas ham

" tidak pada tempatnya seseorang gubernur menepuk dada dan juga bangga jadi provokator. aksi itu malah meyakinkan gubernur cornelis anti kebhinnekaan, " tegas dosen di suatu akademi besar di depok, hari ini jumat, 26 mei 2017.

gubernur cornelis, imbuhnya, pula wajib berani jujur menguak kalau pontianak merupakan kota multikultur sama serupa rata - rata kota besar di indonesia

" aku belum sempat dengar lho terdapat pengkhotbah ataupun pendeta ditolak di medan, ataupun di yogya. bagaikan pejabat publik, mestinya cornelis mengerti. kecuali bahwa benar terencana mau menghasilkan chaos, " tutupnya.







( sumber: http:// www. portal-islam. id/2017/05/bela-ulama-komnas-ham-skak-mat-gubernur. html )