Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah nyata, Seminggu Lagi Menikah, Lelaki Itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia

Ayo peruntukan cerita berikut ini bagaikan pelajaran, buat tidak bermudah - mudahan dalam berhubungan dengan lawan tipe. whatever kondisinya. bagaimanapun triknya. terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, tetapi tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam pelaksanaannya? syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. apabila yang berlabel “aktivis dakwah” aja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang semata - mata berlabel ‘orang awam”?

“ah, surga masih jauh. ”

sehabis bertaburnya cerita kebajikan, izinkan kali ini aku malah mengajak buat menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. jiwa yang sempat kandas dalam tes kehidupan darinya. kenapa tidak? bukankah angkatan laut (AL) quran pula mengisahkan orang - orang kandas dan juga pendosa yang sukses melesatkan pribadinya jadi individu amat mulia?


musa sempat menewaskan orang. yunus terlebih lagi pernah lari dari tugas risalah yang sepatutnya ia emban. adam pula. ia kandas dalam tes buat tidak mendekat pada tumbuhan yang diharamkan menurutnya. tetapi doa sesalnya diabadikan angkatan laut (AL) quran. kita membacanya penuh takjub dan juga khusyu’. “rabb pencipta kami, telah kami aniaya diri seorang diri. andai kau tidak sudi mengampuni dan juga mencintai, tentu jadilah kami tercantum mereka yang rugi - rugi. ” mereka sempat jadi jiwa pendosa, namun perilaku tersadu memuliakan kelanjutan sejarahnya.

saat ini izinkan aku menceritakan tentang seseorang perempuan yang senantiasa berkata kalau pribadinya jiwa pendosa. kita mafhum, kalau masing - masing pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan juga berupaya membetulkan diri lazimnya tersuasanakan buat membenci apa - apa yang terpaut dengan masa lalunya. hatinya tertuntun buat tidak suka pada masing - masing perihal yang berhubungan dengan dosanya. tetapi gimana bila tes berikut sehabis taubat merupakan buat menyayangi indikator dosanya?

dan juga perempuan dengan jubah panjang dan juga hijab lebar corak ungu itu benar berjuang buat menyayangi indikator dosanya.

“saya cuma mau berbagi dan juga mohon doa supaya dikuatkan”, ucapnya dikala kami berjumpa di sesuatu kota selepas suatu kegiatan yang memperkenalkan aku bagaikan penyampai madah. didampingi ibunda dan juga adik lelakinya, ia mengisahkan lika - liku hidup yang mengharu - birukan hati. walaupun sesekali menyeka muka dan juga mata dengan sapu tangan, aku insyaf, ia jauh lebih tangguh dari aku.

“ah, surga masih jauh. ”

kisahnya diawali dengan cerita indah di semester akhir kuliah. ia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan juga penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan - rekan. kesyukurannya kian lengkap tatkala prosesnya buat menikah bisa dengan mudah dan juga gampang. ia tinggal menghitung hari. detik demi detik serasa menyusupkan senang di nafasnya.

ikhwan itu, si calon suami, seseorang lelaki yang bisa jadi jadi idaman seluruh sebayanya. ia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan juga kaya raya, tetapi jelas tidak manja. diketahui pula bagaikan ‘pembesar’ di golongan para aktivis, usaha yang dirintisnya seorang diri semenjak kuliah telah mengentas banyak kawan dan juga begitu membanggakan. awal - awal, sang muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan juga bersahaja itu tidak yakin diri. tetapi hasrat baik dari tiap - tiap pihak menanggulangi seluruhnya.

tinggal sepekan lagi. hari akad dan juga walimah itu tinggal 7 hari menjelang, kala si ikhwan dengan mobil barunya tiba ke rumah yang dikontraknya berbarengan akhwat - akhwat lain. si muslimah agak kaget kala sang calon suami nampak seorang diri. ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang hendak mereka surgakan berbarengan. angkahnya, ibunda sang lelaki dan juga adik perempuannya hendak beserta supaya batasan syari’at senantiasa terpelihara.

“’afwan ukhti, bunda dan juga adik tidak jadi turut karna tiba - tiba uwak masuk icu tersebab gempuran jantung”, ucap ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan muka sesal dan juga terasa bersalah.
“’afwan pula, terdapatkah sebagian akhwat sahabat anti yang dapat mendampingi supaya rencana hari ini senantiasa berjalan? ”

“sayangnya tidak terdapat. ‘afwan, seluruh lagi terdapat kegiatan dan juga keperluan lain. bisakah ditunda? ”

“masalahnya esok aku wajib berangkat keluar kota buat sebagian hari. kayaknya tidak terdapat waktu lagi. gimana? ”

kesimpulannya dengan memforsir dan juga membujuk, salah seseorang kawan kontrakan si ukhti berkenan menemani mereka. namun bi - idznillah, di tengah jalur si sahabat ditelepon rekan lain buat sesuatu keperluan yang katanya gawat dan juga darurat. “saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada aku dengan sedikit isak. “meskipun kami jaga sebaik - baiknya dengan duduk beda baris, ia di depan dan juga aku di balik, aku insyaf, itu dini seluruh petakanya. kami sangat memudah - mudahkan. astaghfirullah. ”

ringkas cerita, mereka kesimpulannya wajib berdua aja meninjau rumah baru tempat nanti surga cinta itu hendak dibentuk. rumah itu tidak besar. tetapi asri dan juga aman. tidak megah. tetapi anggun dan juga teduh.

dikala si muslimah pamit ke kamar mandi buat hajatnya, dengan dorongan seekor kecoa yang buatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian luar biasa. “di rumah yang sepatutnya kami bangun surga dalam ridhanya, kami jatuh terjerembab ke neraka. kami melaksanakan dosa besar terlaknat itu”, ia tersedu. aku tidak tega memandang ia dan juga si ibunda yang menggugu. aku mengalihkan mata aku pada adik lelakinya di sebalik pintu. ia nampak menimang seseorang anak wanita kecil.

“kisahnya tidak menyudahi hingga di situ”, lanjutnya sehabis agak tenang. “pulang dari situ kami berposisi dalam gejolak kerasa yang begitu menyiksa. kami marah. marah pada diri kami. marah pada adik dan juga bunda. marah pada kawan yang memforsir turun di jalur. marah pada kecoa itu. kami kalut. kami berkecil hati. terasa kotor. terasa jijik. aku terus menangis di jok balik. ia menyetir dengan galau. sesal itu menyakitkan sekali. kami kacau. kami terasa sirna. ”

dan juga musibah itupun terjalin. mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. pas sepekan saat sebelum perkawinan.

“setelah kira - kira 4 bulan koma”, sambungnya, “akhirnya aku siuman. pemulihan yang begitu memakan waktu itu diperberat oleh laporan yang awal mulanya aku bimbang wajib mengucap apa. aku berbadan dua. aku memiliki. perzinaan terdosa itu membuahkan karunia. ” aku takjub pada opsi katanya. ia menyebutnya “karunia”. begitu tidak gampang buat mengucap itu untuk orang yang terluka oleh dosa.

“yang lebih membikin aku terasa langit runtuh dan juga bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “ternyata calon suami aku, bapak dari anak aku, wafat di tempat dalam musibah itu. ”

“subhanallah”, aku memekik pelan dengan hati menjerit. aku pandangi wanita kecil yang saat ini digendong oleh si paman itu. engkaulah warnanya nak, indikator dosa yang wajib dicintai itu. engkaulah warnanya nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. engkaulah warnanya nak, tes yang tiba sehabis tes. serupa perut ikan yang menelan yunus sehabis ia tidak tabah menyeru kaumnya.

“doakan aku kokoh ustadz”, ucapnya. seketika, panggilan “ustadz” itu merasa menusuk aku. sergapan kerasa tidak pantas serasa melumuri segala badan. gimana aku hendak berkata - kata di hadapan seseorang yang begitu tegar menanggung seluruh derita, terlebih lagi kala keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. aku masih bimbang alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan juga terhormat itu, berkata, “bagaimana kami dapat yakin kalau itu cucu kami dan juga bukan hasil ketaksenonohanmu dengan laki - laki lain yang membikin putra kami tersayang wafat karna frustrasi? ”

“doakan aku ustadz”, berulang ia menyentak. “semoga keteguhan dan juga kesabaran aku atas tes ini tidak berbeda jadi kekerasan hati dan juga tidak ketahui malu. dan juga mudah - mudahan sesal dan juga taubat ini tidak membatasi aku dari menyayangi anak itu sepenuh hati. ” aduhai, surga masih jauh. terlebih lagi pinta doanya juga luar biasa.

allah, sayangilah jiwa - jiwa pendosa yang membetulkan diri dengan sepenuh hati. mencuci ia dari dosa - dosa masa kemudian dengan kesabarannya meniti hari - hari berbarengan si buah hati. allah, balasi masing - masing kegigihannya menyayangi indikator dosa dengan kemuliaan di sisimu dan juga di sisi orang - orang beriman. allah, karena bapaknya telah kau panggil, kami titipkan anak manis dan juga shalihah ini ke dalam pengasuhanmu nan maha rahman dan juga rahim.

allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit whatever menghina jiwa - jiwa pendosa. karena terdapat perkata imam ahmad ibn hanbal dalam kitab az zuhd yang senantiasa menginsyafkan kami. “sejak dahulu kami menyepakati”, tulis dia, “bahwa bila seorang menghina kerabat mukminnya atas sesuatu dosa, ia takkan mati hingga allah mengujinya dengan dosa yang misalnya dengannya. ” [akhwatmuslimah. com]

sumber : novel ‘menyimak kicau merajut makna’ ust. salim a. fillah, dikisahkan cerita seragam bersumber pada penuturan sang wanita kepada dia. judul asli, ‘mencintai indikator dosa’, hidayatullah, yhougam, akhwat muslimah







( sumber : http: //wowmuslim. blogspot. com/2017/08/kisah - nyata - seminggu - lagi - menikah. html )