Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

💦 BERIKUT PENJELASAN SALAH SATU RENCANA NEW NORMAL DI SEKOLAH 💦





Salah Satu Skenario New Normal di Sekolah, 4 Jam Belajar Tanpa Jam Istirahat

Penerapan new normal di sekolah sedang dirumuskan, salah satunya mengurangi jam belajar dengan masuk 4 jam sehari tanpa jam istirahat.

Bidang pendidikan telah bersiap untuk menyesuaikan dengan tatanan new normal  di tengah pandemi Virus Corona.

Beberapa perubahan diusulkan untuk tetap menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar yang aman bagi siswa.

Usulan tersebut di antaranya adalah pengurangan jam masuk sekolah dan peniadaan jam istirahat.
Perubahan sistem pengajaran juga sedang dirumuskan untuk memfasilitasi guru agar dapat beradaptasi di situasi new normal.

Dilansir Kompas.com, Kamis (28/5/2020), Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian PPPA Ciput Ekawati menyampaikan hal tersebut dalam webinar.

Ia mengungkapkan telah merekomendasikan sejumlah skenario yang bisa dilakukan untuk dapat menerapkan protokol kesehatan di sekolah.

Satu di antaranya adalah pengurangan waktu belajar menjadi 4 jam sehari tanpa adanya istirahat.

"Namun yang sedang kami rekomendasikan adalah menghilangkan jam istirahat dan memperpendek jam pelajaran, yang sedang didiskusikan masuk 4 jam sehari tanpa jam istirahat," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga telah merumuskan aturan untuk mengatur jumlah siswa dan memberlakukan physical distancing.

"Jumlah siswa, pengaturan jarak itu pasti akan ada jeda-jeda tertentu. Itu yang sedang diatur," imbuh Ciput.

Ilustrasi new normal di sekolah. Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sunter Agung 09, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2020). Seluruh siswa SDN Sunter Agung 09 dihimbau mengenakan masker oleh pihak kepala sekolah karena penyebaran virus corona sekaligus mengurangi resiko tertular.

Ilustrasi new normal di sekolah. Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sunter Agung 09, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2020). Seluruh siswa SDN Sunter Agung 09 dihimbau mengenakan masker oleh pihak kepala sekolah karena penyebaran virus corona sekaligus mengurangi resiko tertular. (Tribunnews/JEPRIMA)

Di sisi lain, Ciput juga menyinggung kesiapan institusi pendidikan dan tenaga pelajar yang harus bisa beradaptasi pada model pengajaran yang baru.

"Peran institusi pendidikan sudah pasti, jelas para guru harus siap remodeling sistem belajar di kelas," ujar Ciput.

Selain itu, pihak sekolah juga harus menyediakan tempat cuci tangan yang memadai agar tidak terjadi antrean anak-anak.

Ciput kemudian menyoroti pemberlakukan pendidikan new normal yang sudah dilaksanakan di Australia.

Saat ini, pelajar di negara tersebut telah mulai menyekolahkan anak didiknya dengan tetap berpegangan pada protokol kesehatan.

"Mereka hanya dua kelas dulu untuk uji coba, termasuk menyiapkan siswa, guru, tenaga pendidik dengan new normal ini," kata Ciput.

Oleh karena itu, pihaknya juga telah mengusulkan mengenai jam masuk dan pulang yang diberlakukan berbeda antar kelas.

Tujuannya untuk mengurangi kerumunan saat akan memasuki atau keluar dari gerbang sekolah.

"Kalau di Indonesia saya pikir bisa disiasati dengan diberi jeda masuknya, satu jam. Jadi masuk dan pulang tidak bersamaan sehingga tidak bertumpuk saat keluar masuk gerbang," tandasnya.

Sekolah Belum Siap

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti meminta Pemerintah untuk tidak gegabah dalam menerapkan kehidupan new normal, terlebih untuk lingkup sekolah.

Terutama untuk pembukaan sekolah rencananya akan dilakukan pada fase ketiga new normal yakni pada 15 Juni 2020.

Menurutnya, sekolah dinilai masih belum siap untuk menjalankan new normal dalam waktu dekat.

Alasannya karena melihat risiko dan data kasus Virus Corona di Indonesia yang masih tergolong tinggi.

Dilansir metrotvnews, Selasa (26/5/2020), Retno Listyarti kemudian mengungkapkan ada beberapa kendala yang akan dihadapi ketika memaksakan siswa untuk kembali ke sekolah.

Ia mempertanyakan bagaimana langkah yang bisa dilakukan sekolah untuk penerapan protokol kesehatan guna memperlakukan dan mengatur siswa yang sifatnya masih anak-anak

Dirinya kemudian menggambarkan kondisi kerumunan yang akan terjadi di sekolah, khususnya di kantin.

Retno juga menanyakan apakah siswa benar-benar bisa disiplin untuk melakukan physical distancing, termasuk menggunakan masker.

Menurutnya, hal itu tentunya akan sulit untuk dipantau dan dikendalikan.

Ia lantas menyinggung kasus yang terjadi pada orang dewasa, seperti yang diketahui masih banyak yang melanggar, apalagi untuk anak-anak.

"Lalu bagaimana dengan jaga jarak, kemudian kantin, kantin enggak boleh buka, anak-anak harus membawa bekal sendiri karena kantin sering menjadi tempat kerumunan," ujar Retno.

"Lalu apakah anak-anak kita selama di rumah sudah biasa pakai masker, ini kan juga harus dilatih menggunakan masker," jelasnya.

"Kita orang dewasa saja suka merasa tidak nyaman, apalagi anak-anak."

Maka dari itu, hal-hal tersebut diharapkan bisa menjadi pertimbangan dari pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan sektor-sektor penunjang lainnya.

Selain itu juga memastikan kondisinya sudah cukup aman untuk membuka kembali sekolah.

Retno tidak ingin, sekolah justru menjadi klaster baru penyebaran Virus Corona.

"Ini yang penting sebenarnya nanti dipersiapkan oleh Kemdikbud, oleh dinas-dinas pendidikan petakan sekarang," harapnya.

"Selain tadi ya kewenangan di gugus Covid terkait sudah zero kasus, pastikan zero kasus kalau tidak zero kasus sekolah berpotensi menjadi kluster baru."

Lebih lanjut, ketika kemungkinan itu terjadi, maka masalah baru adalah cara penanganananya.

Dia mengatakan tidak mudah tentunya mengatasi anak yang terpapar Virus Corona yang mengharuskan dilakukan isolasi.

"Dan anak-anak yang positif covid 19 telah dirawat di rumah sakit, dia itu diisolasi tidak bisa sendiri, kalau anak SD, anak TK," pungkasnya.