Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

💗 Kisah Sedih Pemulung di Indramayu Saat Pandemi Corona: Hanya Berpenghasilan Rp 10 Ribu Per Hari 💗


Kehidupan Rastinah (35) dan Umiyati (30) kian tidak menentu seiring datangnya wabah virus corona. Penghasilan warga Keluruhan Lemahmekar, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, terus menurun sehingga tidak mencukupi keputuhan.

Baca juga :

💗 Sudah 3 Tahun DR. OZ Pergi, Ibunda Baru Ungkap Kebiasaan Buruk Penyebab Meninggalnya 💗

Keduanya mengandalkan penghasilan dari tempat sampah ke tempat sampah lain. Mereka mengumpulkan sampah yang bisa dijual. Sayang, harga sampah anjlok. Rata-rata jenis sampah yang mereka kumpulkan itu hanya dihargai Rp 1.000 per kilogramnya.

Rastinah mengatakan, jika pada hari-hari biasanya bisa mendapat upah dari memulung sampah Rp 30 ribu untuk menghidupi suami dan lima anaknya, kini dapat upah Rp 10 ribu saja susah.

"Kalau dapat sampah 10 kilogram, itu cuma dapat Rp 10 ribu. Cuma cukup beli beras setengah (kilogram) sama telur tiga. Padahal anak saya saja ada lima," ujar Rastinah kepada Tribuncirebon.com saat ditemui di tempat sampah di wilayah Kelurahan Lemahmekar, Senin (4/5/2020).

Rastinah mengatakan, rela berangkat memulung mulai pukul 01.00 WIB dini hari dan pulang pukul 11.00 WIB siang setiap hari selama 17 tahun demi menghidupi keluarga.

Ia juga mengaku mesti menahan perihnya lapar asalkan anak-anak dan suaminya bisa makan.

"Anak saya itu ada empat, anak yang paling besar masih SMP umur 14 tahun, yang nomor dua 13 tahun, yang nomor tiga 9 tahun, dan satunya masih bayi umur tiga tahun. Satu laginya itu anak yatim dari istri pertama suami, saya yang saya urus dari kecil," ujarnya.

Baca Juga :

💗 Sambil menangis bayi 17 bulan ini menyusu pada ibunya yang sudah tiada 💗

Suami Rastinah hanya seorang tukang servis lampu. Jika tidak ada lampu untuk diservis, ia kebanyakan di rumah mengurusi anak-anak.

Terlebih suaminya memiliki penyakit maag kronis yang membuatnya sulit bekerja berat. Hal ini yang membuatnya mesti menanggung semua biaya kebutuhan keluarga.

"Sekarang baru lima kilogram (sampah yang terkumpul), paling cuma Rp 5 ribu, itu enggak dapat beras, Mas. Paling nanti dibelikan roti terus dibagi sedikit-sedikit dengan suami dan anak-anak," kata Rastinah.

Hal senada juga disampaikan Umiyati. Bedanya, ia mesti memulung sembari membawa buah hatinya yang masih balita.

"Ya, anak dibawa setiap hari karena enggak ada yang ngurus," ujarnya. (*)