Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Al-Qur'an Bukan Sekedar Bacaan Biasa, Mulialah Orang Yang Memuliakannya, dan Hinalah Orang Yang Merehkannya

Bulan suci Ramadan adalah bulan Alquran diturunkan. Surat Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan, Ramadan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda (antara yang haq dan batil).

Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Bandar, Kabupaten Batang, KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, berdasarkan ayat ini, fungsi Alquran sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda agar hidup manusia senantiasa dalam bimbingan cahaya illahi.

Baca Juga :

💗 Zaskia Gotik Melahirkan Bayi Perempuan, Suami: Alhamdulillah

”Alquran menunjukkan kepada kita bagaimana mengarahkan hidup dan kehidupan pada jalan yang benar, dan apa saja yang boleh dilakukan serta dilarang untuk dikerjakan. Ya Allah, tunjukanlah kami jalan yang lurus." Anang menekankan, Alquran juga membedakan antara halal dan haram, harum dan busuk, teman dan lawan, serta jalan menuju ke surga dan neraka. Meskipun demikian, tidak semua muslim menyadari.

Faktanya, banyak yang menjadikan Alquran sekadar bacaan, tanpa perlu memahami, menghayati, dan mengamalkan kandungannya. Bahkan tidak sedikit yang bacaannya tidak standar maupun fasih melafalkan huruf ataupun tajwidnya. ”Pada sisi lain, masih banyak pula kaum muslimin yang jika ada masalah dalam hidupnya, rujukannya bukan Alquran dan Sunah.

Melainkan merujuk kepada cara pandang hedonisme, sekularisme, paham lain yang seringkali sesat dan menyesatkan.” Anang mengutip pesan dalam Alquran. ”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (Qs Muhammad [47]: 24). ”Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qomar [54]: 17) ”Dalam bulan Ramadan, selain puasa, tarawih dan iktikaf, maka tadarus Alquran harus lebih digiatkan dan ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.” Namun tadarus jangan hanya mengejar target berapa kali mengkhatamkan bacaan Alquran, melainkan perhatikan juga seberapa banyak ayat-ayat yang sudah dipahami, dihayati dan diamalkan.

Baca Juga :

💗 Ngeri! Inilah 6 Tanda Rumah Makan Yang Pakai Penglaris - No. 4 Paling Banyak

Itulah makna tartil. Yaitu tartil dalam hal membaca, mempelajari, termasuk tartil dalam memahami kandungan ayat-ayatnya. Nabi Saw, kata Anang, juga pernah ditegur oleh Allah Swt karena tergesa-gesa ingin cepat menguasai.

 ”Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)”. (Qs Al- Muzzammil [73]:4) ”Tadarus bisa dilakukan di masjid, musholla atau di rumahrumah, secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah dengan saling menyimak. Tradisi tadarus ini terjadi sejak zaman Rasulullah Saw, yaitu tiap malam Ramadan, Malaikat Jibril AS datang kepada Nabi untuk mengecek hafalan dan bacaan Nabi.

Tiap malam, keduanya silih berganti membaca dan menghafal Alquran, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril turun dua kali dalam semalam selama Ramadan,” tuturnya Anang menambahkan, Rasulullah Saw bersabda: ” Puasa dan Alquran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, "Ya Tuhanku, aku telah mencegahnya dari makanan dan keinginan-keinginan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya".

 Alquran juga berkata, "Ya Tuhanku, aku mencegahnya tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya." Maka keduanya diizinkan memberikan syafaat.” (HR. Ahmad, At-Thabarani, dan Al-Hakim) ”Maka dari itu, kehadiran bulan suci 

Baca Juga :

💗 Muzdalifah Sulap Rumah Mewah Jadi Warung Makan, Intip Suasana Bisnis Barunya: Ramai atau Sepi?

Ramadan kali ini harus kita jadikan momen untuk meneguhkan kembali semangat merujuk kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Melalui usaha yang sungguh-sungguh untuk belajar membaca, memperbaiki bacaan, memahami kandungan, dan mengamalkan ajarannya,” pinta Anang.