Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

💗 Tahukah Kamu Perasaan Seorang Ibu Ketika Dibentak Anaknya? Ternyata Lebih Sakit Dari Melahirkan! 💗



Ibu, masakin air bu. Saya ingin mandi pakai air hangat, ” seorang anak meminta ibunya mempersiapkan air hangat untuk mandinya.

Sang ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang diperintah oleh sang anak. Dengan suara lembut ibunya menyahut, “Iya, tunggulah sebentar ya, sayang! ” “Jangan terlalu lama ya Bu! Soalnya saya ada janji sama topik,. ” tutur sang anak.

Baca juga :

Selang beberapa saat sang ibu sudah selesai mempersiapkan air hangat untuk buah hatinya. “Nak, air hangatnya sudah siap, ” ibu ini memberi tahu. “Lama sekali sih, Bu…” sang anak sedikit membentak.

Sehabis usai mandi dan kenakan pakaian rapi, sang anak berpamitan pada ibunya, “Bu, saya keluar dulu ya, ingin berjalan-jalan sama rekan. ”

“Mau kemana nak? ” tanya sang ibu.

“Kan telah saya katakan, saya ingin keluar berjalan-jalan sama rekan, ” kata sang anak sembari mengernyitkan dahi.

Malam harinya, sang anak pulang dari berjalan-jalan, sesampainya dirumah ia terasa kesal lantaran ibunya tidak ada dirumah. Padahal perutnya sangatlah lapar, di meja makan tak ada makanan apapun.
Lebih dari satu waktu lalu, ibunya datang sembari mengatakan salam, “Assalamu’alaik­­um.. Nak, anda telah pulang? Telah dari tadi? ”

“Hah, ibu dari mana saja. Saya itu lapar, ingin makan tak ada makanan di meja makan. Semestinya bila ibu ingin keluar ini masak dulu…” kata si anak dengan nada sangatlah lantang.

Baca Juga :

Sang ibu coba menuturkan sembari memegang tangan anaknya, “Begini sayang, anda janganlah geram dahulu. Ibu tadi keluar bukanlah untuk masalah yg tidak penting, kamu belum tahukan kalau istrinya Pak Rahman meninggal? ”

“Meninggal? Padahal tak sakit apa- apa kan, Bu? ” sang anak sedikit kaget, suara suaranya juga tak tinggi lagi.

“Dia meninggal saat Maghrib tadi. Dia wafat waktu melahirkan anaknya. Anda harus juga tahu nak, seseorang ibu ini bertaruh nyawa waktu melahirkan anaknya, ” ibu memberi penjelasan.

Hati sang anak mulai terketuk, dengan nada lirih ia ajukan pertanyaan pada ibunya, “Itu berarti, ibu waktu melahirkanku juga demikian? Ibu juga rasakan sakit yang luar biasa juga? ”

“Iya anakku. Waktu ini ibu mesti berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi, ada yang lebih sakit dari pada sebatas melahirkanmu, nak, ” sang ibu menjawab.

“Apa ini, Bu? ” sang anak mau tahu apa yang melebihi rasa sakit ibunya waktu melahirkan dia.
Sang ibu tidak dapat menahan air mata yang mengalir dari tiap-tiap pojok matanya seraya berkata,

Baca Juga :

“Rasa sakit waktu ibu melahirkanmu ini tidak seberapa, apabila dibanding dengan rasa sakit yang ibu rasakan waktu dirimu membentak ibu dengan nada lantang, waktu kau menyakiti hati ibu, Nak. ”
Si anak segera menangis serta memohon ampun atas apa yang sudah diperbuat selama ini pada ibunya.

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua)1, sekarang kita membahas kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua. Sebagaimana tingginya keutamaan dan urgensi birrul walidain, maka konsekuensinya betapa besar dan bahayanya hal yang menjadi kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua.

Bahkan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Ini secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ
“dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Dalam hadits Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ
“maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari – Muslim).

Baca Juga :

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkali-kali memperingatkan para sahabat mengenai besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Subhaanallah!.

Dan perhatikan, sebagaimana perintah untuk birrul walidain disebutkan setelah perintah untuk bertauhid, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36). Maka di hadits ini dosa durhaka kepada orang tua juga disebutkan setelah dosa syirik. Ini menunjukkan betapa besar dan fatalnya dosa durhaka kepada orang tua.

Namun perlu di ketahui, sebagaimana dosa syirik itu bertingkat-tingkat, dosa maksiat juga bertingkat-tingkat, maka dosa durhaka kepada orang tua juga bertingkat-tingkat.

Durhaka kepada ibu, lebih besar lagi dosanya
Sebagaimana kita ketahui dari dalil-dalil bahwa berbuat baik kepada ibu lebih diutamakan daripada kepada ayah, maka demikian juga durhaka kepada ibu lebih besar dosanya. Selain itu, ibu adalah seorang wanita, yang ia secara tabi’at adalah manusia yang lemah. Sedangkan memberikan gangguan kepada orang yang lemah itu hukuman dan dosanya lebih besar dari orang biasa atau orang yang kuat.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ حرَّمَ عليكم عقوقَ الأمَّهاتِ ، ومنعًا وَهاتِ ، ووأدَ البناتِ وَكرِه لَكم : قيلَ وقالَ ، وَكثرةَ السُّؤالِ ، وإضاعةَ المالِ
“sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka kepada para ibu, pelit dan tamak, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah juga tidak menyukai qiila wa qaala, banyak bertanya dan membuang-membuang harta” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahu ‘alam bis shawab.

Baca Juga :