Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini Keadaan Ruh ketika Malaikat Maut Mencabutnya dari Jasad Manusia

 


KEMATIAN merupakan hal yang pasti dialami setiap makhluk hidup dan itu sudah ditentukan oleh Allah. Ruh yang dicabut oleh malaikat Izrail akan mengalami dua keadaan, apakah sengsara atau tidak.

Manusia mukmin senantiasa taat kepada perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dan menghidupkan sunah Rasulullah. Sementara, kafir adalah kaum pembangkang, mereka tidak percaya keberadaan Allah beserta apa yang diturunkan oleh-Nya. Maka Allah membedakan keadaan keduanya di saat malaikat Izrail menjemput mereka.

Dalam buku “Detik-Detik Menjelang Hisab” karya Junaidi Ahmad, Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari al-Bara' bin Azib, ia mengisahkan, "Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melewati seorang sahabat dari kalangan Anshar dan mengantar sampai ke kuburannya. Ketika kuburan itu mulai digali, Rasulullah duduk dan kami duduk mengelilinginya. Seolah-olah di atas kepala kami bertengger seekor burung yang sedang memukulkan tongkatnya ke tanah. Rasulullah mendongak sembari bersabda, "Berlindunglah kalian dari azab neraka."

Rasulullah mengulang sabdanya dua sampai tiga kali. "Jika hubungan mukmin terputus dengan dunia dan ia mulai menyambut kehidupan akhirat, dari langit turunlah malaikat berwajah putih, seumpama matahari. Mereka membawa kafan dan parfum dari surga. Mereka duduk mengitarinya sejauh pandangan mata. Lalu, malaikat maut datang dan duduk tepat di atas kepalanya sembari berkata, "Keluarlah wahai jiwa yang baik, sambutlah ampunan dan kerelaan Tuhan."

Rasulullah kemudian melanjutkan, "Jiwa itu mengalir seperti air yang menetes dari kantong air, dan malaikat maut meraihnya. Ketika malaikat mengambil jiwa itu, ia tidak menggenggamnya dengan tangan, melainkan dengan cepat memasukkannya ke kafan dan segera menyemprotkan parfum di atasnya. Lalu, keluarlah wangi kasturi yang menyebar ke seluruh bumi."

"Dengan membawa serta jiwa mukmin tadi, malaikat naik ke langit. Setiap bertemu malaikat lain selalu ada yang bertanya, "Siapakah jiwa yang bagus ini?" Mereka menjawab, "Fulan bin Fulan, dengan namanya yang tercatat di dunia sebagaimana banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang baik." Tanya jawab seperti itu terus ada sampai akhir langit dunia. Mereka pun membukakan pintu baginya dan mengantarkannya ke setiap langit yang menjadi jalan pintas ke langit selanjutnya sampai langit akhir, yaitu langit ke tujuh.

Allah berfirman, "Tulislah catatan hambaKu ini di illiyyin (kitab pencatat segala perbuatan orang - orang berbakti), kembalikanlah ia ke bumi. Aku menciptakan mereka dari tanah dan di tanah pula Aku akan mengembalikan mereka, lalu Aku mengeluarkan mereka dari tanah (lagi)."

Lalu, ruh itu kembali ke jasadnya. Datanglah dua malaikat yang duduk di sampingnya sembari bertanya,

"Siapa Tuhanmu?"

"Allah."

"Apa agamamu?"

"Islam."

"Siapakah yang diutus untuk kalian?."

"Rasulullah."

"Apa ilmumu?"

"Aku membaca Alquran, aku beriman, dan membenarkannya," kata ruh.